Mengapa krisis Calon kepala sekolah?

$rows[judul]

Mengapa terjadi Krisis Calon Kepala Sekolah: Sebuah Analisis*

Oleh : Kang Subari. Pengamat  Pendidikan dan pegiat literasi Tinggal di Jawa Timur. 

Sobaripsr@gmail.com

Isu krisisnya calon kepala sekolah di sejumlah daerah bukanlah isu kecil. Banyak sekolah negeri kesulitan mendapatkan pemimpin yang siap dan bertahan. Mengapa terjadi demikian.  Ada beberapa faktor penyebabnya, menurut kang Subari pengamat Pendidikan di Jawa Timur ini, ada beberapa Faktor-faktor utama penyebabnya antara lain, adalah:

1. Minat Guru Menjadi Kepala Sekolah  di sekolah, Semakin Rendah : Banyak guru enggan maju karena beban kerja sangat berat, risiko hukum dan administrasi tinggi, tunjangan belum sebanding dengan tanggung jawab, tekanan dari atasan, pengawas, dan masyarakat.

2. Persyaratan Administrasi Terlalu Rumit*: Harus melalui diklat, seleksi, sertifikasi, dan rekomendasi berlapis, proses panjang dan kebijakan sering berubah.

3. Usia Calon Kepala Sekolah Mendekati Pensiun

Calon kepala sekolah yang Memenuhi syarat saat usia sudah tidak ideal, regenerasi kepemimpinan tidak berjalan optimal.

4. Sistem Rekrutmen Kurang Menarik, : Seleksi lebih menekankan kelengkapan dokumen, kepemimpinan nyata kurang menjadi prioritas, jalur karier kepala sekolah belum jelas dan menjanjikan.

5. Beban Administrasi Terlalu Dominan

Kepala sekolah lebih sibuk mengurus laporan, waktu memimpin pembelajaran semakin berkurang, terjebak pada sistem, aplikasi, dan audit.

6. Perlindungan Hukum Masih Lemah.

Kepala sekolah rawan dilaporkan, risiko tinggi pada pengelolaan BOS dan anggaran, minim pendampingan hukum yang kuat.

7. Intervensi Politik dan Kepentingan. Penempatan kepala sekolah tidak selalu berbasis kompetensi.

8. Kesejahteraan Belum Seimbang.

Tunjangan tidak sebanding dengan tekanan kerja, jam kerja sering melebihi ketentuan formal.

9. *Tingkat Stres dan Burnout Tinggi*: Kepala sekolah menjadi “tameng” semua masalah sekolah, ruang untuk pengembangan diri sangat terbatas.

10. *Citra Jabatan Kepala Sekolah Menurun*: Dipersepsikan sebagai “administrator proyek”, bukan lagi pemimpin pembelajaran yang inspiratif.

Dampak nyata krisis kepala sekolah adalah banyak sekolah dipimpin PLT dalam waktu lama, mutu manajemen sekolah menurun, beban guru semakin berat, program sekolah tidak berkelanjutan.


Solusi

1. *Mereformasi Sistem Rekrutmen*: Seleksi lebih menekankan kepemimpinan nyata, jalur karier kepala sekolah harus jelas dan menjanjikan.

2. Meningkatkan Kesejahteraan*: Tunjangan harus sebanding dengan tekanan kerja, jam kerja harus sesuai dengan ketentuan formal.

3. Meningkatkan Perlindungan Hukum*: Kepala sekolah harus memiliki pendampingan hukum yang kuat.

4. *Meningkatkan Citra Jabatan Kepala Sekolah*: Kepala sekolah harus dipersepsikan sebagai pemimpin pembelajaran yang inspiratif.

Dengan demikian, krisis calon kepala sekolah dapat diatasi, dan sekolah dapat memiliki pemimpin yang siap dan bertahan.         

Subari. M. Pd adalah kandidat Doktor manajemen Pendidikan Islam di Universitas KH. Abdul Chalim Pacet Mojokerto Jawa Timur. Sobaripsr@ gmail.com

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)