Keterangan Gambar : Makam peninggalan adipati pertama di Bangil
SEJARAH MASJID AGUNG BANGIL
( wong Bangil kudu wero sejarahe dewe )
Dalam buku sejarah babat tanah jawa, menerangkan tentang berahirnya kekuasaan Kerajaan Mojopahit yang jatuh ke tangan kerajaan kesultanan Islam Demak Bintoro.
Di saat peristiwa itu, pasukan Mojopahit lari tunggang langgang ke bekas kekuasaanya yang berada di Kadiri, dan sebagian lainya lari ke arah timur (tengger gunung Bromo) atau kerajaan Blambangan di Banyuwangi.
Dalam pengejaran terhadap pasukan Mojopahit yang lari ke arah timur (tengger dan blabangan), pasukan kerajaan Islam Demak bintoro menemukan sebuah sumur dan bangunan kecil berupa "SURAU" di Bangil, kemudian oleh masarakat Bangil di beri nama "MASJID TIBAN" .
Menurut masarakat Bangil yang terdahulu, bahwa Masjid Agung Bangil adalah Masjid tiban di bangun oleh Rijalul ghoib.
Di kisahkan dalam satu kitab salaf bahwa; dahulu sebelum adanya Masjid, tempat tersebut merupakan bekas air mandi jenazahnya Rosulullah Saw, yang di bawa oleh awan, kemudian manjadi air hujan dan turun di tempat tersebut.
Kemudian tempat tersebut di bangun oleh Rijalul ghoib berupa Surau atau Masjid, sehingga masarakat Bangil memberi nama "Masjid Tiban"
Masjid tiban awalnya seluas16 pilar Kayu penyangga dalam bentuk KLENENGAN separuh berupa tumpukan batu, sedang di atasnya terdapat kayu dengan atap de daunan.
Kemudian Masjid tiban Bangil, di renovasi pertamakali oleh Seorang Adipati Pasuruan satu di Bangil bernama "Among Negoro" 1666 M, di zaman Sultan Trenggono, kemudian di beri nama "Masjid Agung" Pasuruan satu di Bangil dengan gaya arsitektur menggunakan kultur Jawa kuno seperti Masjid Demak Bintoro atau Masjid Ampel Surabaya.
Konon menurut cerita masarakat Bangil tempo dulu, Masjid tiban Bangil lebih tua usianya dari Masjid Ampel Surabaya.
mengingat masa kerajaan mojo pahit, Raden Rahmatullah setelah menikah dengan salah seorang putri Adipati Tuban yang bernama Ni Ageng Manila, maka Mbah sunan Ampel pertama kali di beri kekuasaan oleh raja mojo pahit di Bangil atau Pasuruan satu bergelar Mbah Kuoso.
Kemudian Masjid Agung Bangil di perluas oleh Adipati Bangil pertama zaman mataram ( VOC ) yang bernama Raden ARYA pada tahun 1773.M
kemudian, renofasi pembangunan Masjid Agung berikutnya oleh Adipati Bangil bernama Noto hadi ningrat tercatat di mihrab tahun 1287 atau 1870 M, sedangkan angka di atas Mimbar tercatat tahun 1206 H dengan gaya arsitektur jawa kuno berbentuk segi tiga dan segi empat di tambah kultur arab seperti adanya kuba dan menara Masjid Agung Bangil tampak dari depan Alun Alun.
Sejak dulu keaslian bangunan Masjid Agung Bangil tidak di rubah, yakni; terdiri dari kayu jati di halusi dengan kapak ( pecok ), dan tidak terdapat paku maupun besi, sedangkan di dalam tanah untuk kayu penyangga tersebut terdapat tumpukan batu besar zaman dulu, kemudian di atas batu besar terdapat lubang terisi sapu Duk sebagai alas umpak atau pangkon kayu besar tersebut, guna menahan gempa Bumi ujar salah seorang Insinyur.
Menurut sejarah buku Babat Demak Bintoro, setiap Masjid yang di beri nama "Masjid Agung" merupakan Masjid tua yang memiliki sejarah berkaitan dengan sejarah Wali Songo atau berkaitan dengan sejarah wilayah kekuasaan kesultanan Islam Demak Bintoro.
Adapun ciri khas Masjid bekas kekuasaan kerajaan Islam Demak Bintoro, Masjid tersebut memiliki ciri khas menggunakan tradisi tata kota Jawa kuno Yaitu ; ALUN ALUN sebagai pusat kota.
Adapun sekitarnya :
1. Sebelah Barat Alun alun terdapat Masjid yang di beri nama Masjid Agung dan kuburan serta desa yang bernama Kauman.
2. Sebelah timur Alun alun terdapat wilayah Hukum ( penjara) dan kepatihan.
3. Sebelah selatan atau utara Alun alun terdapat pusat pemerintahan yang di sebut Astana Dalem dan Desa kidul Dalem.
4. Sedangkan sekitar Alun alun lainya terdapat pasar dan terminal kuda ( Gedokan Jaran ) sebagai alat transportasi tempo dulu.
Masjid Agung seperti di atas, maka menurut sejarah babat demak bintoro, Masjid tersebut di bawah naungan dan kekuasaan pemerintahan kesultanan Islam Demak Bintoro.
Adapun ciri ciri lainya dari kekuasaan kesultanan Islam Demak Bintoro di antaranya; dalam Masjid Agung terdapat seorang Ulama' Ahli hukum Agama sebagai pengurus Masjid bergelar SURONOTO, sedangkan SORONOTO membawahi marbot Masjid dan juru kunci kuburan,... Kesemuanya di angkat oleh Adipati dan mendapat bayaran dari pemerintahan kesultanan Kadipaten.
Sedangkan ciri ciri berikutnya; Bangunan Masjid Agung memiliki kultur jawa kuno, yaitu terdiri dari tiga susun beratapkan genteng dengan bentuk keseluruhan seperti piramida yang mengkrucut ke atas, menggambarkan filosofi:
1. Genteng dasar melambangkan "Syariat".
2. Genteng ke dua merupakan "Thoriqot"
3. Genteng ke tiga merupakan "Hakikat/Makrifat"
Masjid Agung memiliki empat tiang paling tinggi di sebut soko guru, kemudian di kelilingi 12 tiang lainya sebagai penyangga.
Salah satu Masjid bekas kekuasaan kerajaan Islam Demak Bintoro adalah "Masjid Agung Bangil".
Terbukti, di sebelah barat Masjid Agung Bangil terdapat dua makam Adipati Bangil, di antaranya bernama :
1. Kanjeng Raden Tumenggung Noto Ningrat, tercatat di batu nisan wafat tahun1888 M.
2. Kanjeng Raden Tumenggung Sunjoto Ningrat.
Kedua Adipati di atas berkaitan dengan sejarah pembangunan renovasi Masjid Agung Bangil..
Sedangkan Ulama' ahli hukum bergelar Suronoto sebagai pengurus Masjid Agung Bangil, bernama:
1. Kyai Usman Suronoto.
2. Kyai Ahmad Suronoto.
kedua Ulama' bergelar Suronoto tersebut di makamkan di belakang Masjid Agung Bangil.
Adapun Kantor Suronoto tempo dulu berada di samping Masjid, kemudian berubah menjadi Kantor Urusan Agama. ( KUA) yang pertama kali di jabat oleh Ustadz Amirin dari desa Ledok Bangil.
Kenapa sekarang di sebut Masjid Agung Jamik Bangil. ?
Menurut sejarah bahwa; sebutan nama Masjid Agung Bangil berkaitan dengan sejarah kekuasaan kesultanan Islam Demak Bintoro, sedangkan masarakat Bangil pada umumnya menyebut "Masjid Jami' Bangil", artinya Masjid banyak menampung jamaah untuk sholat Jum'at dan sholat Iedul fitri serta sholat Iedul Adha.
Dengan demikian ada dua nama Masjid Bangil, di antaranya ;
1. Masjid Agung Bangil di renovasi oleh pemerintah Kesultanan Islam Demak Bintoro.
2. Masjid Jamik Bangil lazim di sebut oleh para Ulama' dan tokoh masarakat.
Dengan demikian, nama Masjid Agung Bangil, di sempurnakan lagi oleh para Ulama' dengan nama Masjid Agung Jami' Bangil, yang artinya "Masjid besar dan banyak menampung jamaah",
hal itu sesuai dengan simbul Ahlu Sunnah Wal Jamaah ( Assawadil A' dhom minal muslimin).
Para Ulama' terdahulu membuat hiasan kaca samping dengan nama 25 Rasul dan 10 Malaikat serta 4 sahabat Nabi Muhammad Saw.
Kemudian dalam Masjid Agung Bangil terdapat Bencet ( petunjuk jam Matahari ) dan beduk serta kentongan sebagai tanda waktu dhuhur.
Masjid Agung Jami' Bangil tercatat dalam AD/ ART sebagai Masjid Ahlu Sunnah wal Jamaah dengan tauhid Asy'ari dan Maturidi,, fiqihnya mengikuti madzhab 4, terutama Madzhab Imam Syafii, dan Tasawufnya mengikuti Imam Al Ghozali atau Imam Junaid Al Bagdadi.
Maka Nadhir dan Anggota Majlis tahklim serta pengurus Masjid Agung Jamik Bangil, pasti beraqidah Ahlu Sunnah Waljamaah ( NU ) kultural atau struktural, hal itu sesuai dengan AD/ ART Masjid Agung Jamik Bangil
Demikianlah sejarah ringkas Masjid Agung Bangil yang kini menjadi Masjid Agung Jamik Bangil (Wallahu A' lam).
Tulis Komentar