Keterangan Gambar : Foto masjid Jamik Bangil tahun 1918 M
Berikut penelusuran kang subari, sejarah asal usul kabupaten pasuruan hari jadi ke 1096 M.
Berdasarkan cerita dan buku sejarah babat tanah jawa, menerangkan tentang runtuhnya kekuasaan Kerajaan Mojopahit yang jatuh ke tangan kerajaan kesultanan Islam Demak Bintoro.
Dalam peristiwa tersebut, pasukan kerajaan Mojopahit lari tunggang langgang ke bekas kekuasaanya yang berada di kerajaan Kediri, dan sebagian lainya lari ke arah timur pulau Jawa, menuju gunung tengger Bromo dan kerajaan Blambangan di Banyuwangi.
Dalam pengejaran terhadap pasukan Mojopahit yang lari ke arah timur pulau jawa, pasukan kerajaan Islam Demak bintoro menemukan sebuah "SUMUR" dan bangunan kecil berupa "SURAU" di Bangil pada tahun 1535 M, kemudian SURAU tersebut di beri nama "MASJID TIBAN" oleh masarakat Bangil.
Di kisahkan oleh sesepuh masarakat Bangil tempo dulu bahwa; setiap Masjid tiban itu di bangun oleh Rijalul ghoib.
Kisah itu berdasarkan kitab salafu Sholih bahwa; dahulu sebelum di temukan adanya bangunan berupa Masjid tiban, tempat tersebut merupakan bekas air mandi dari jenazahnya Rosulullah Saw, yang naik ke atas di terpa oleh angin dan awan, kemudian manjadi air hujan dan turun ke tempat tersebut.
Maka tempat hujan tersebut di bangun oleh Rijalul ghoib sebagai Masjid.
Dengan demikian masarakat Bangil tempo dulu memberi nama "Masjid Tiban" .
Pada awalnya Masjid tiban Bangil seluas 16 pilar Kayu penyangga dalam bentuk KLENENGAN, separuh berupa tumpukan batu, dan separuhnya lagi berupa kayu, sedang di atasnya beratapkan daun.
Masjid tiban Bangil, pertama kali di renovasi oleh Seorang Adipati Pasuruan satu di Bangil bergelar "Among Negoro" pada awal abad 16 M, setelah pembangunan Masjid tersebut selesai, maka di beri nama "Masjid Agung Bangil" Pasuruan satu. dengan model arsitektur Jawa kuno, sama seperti dengan Masjid Demak Bintoro atau Masjid Ampel Surabaya.
Hal itu merupakan langkah dakwa pertama kali di daerah kekuasaan kesultanan Islam Demak Bintoro adalah membangun Masjid yang di beri nama "Agung" artinya rumah Allah yang maha Agung = Baitullah.
Kemudian pembangunan renovasi Masjid Agung Bangil berikutnya di bangun pada zaman Adipati Bangil bernama KRT Noto ningrat, penyelesaiannya tercatat di atas mihrab pada tahun 1287 atau 1870 M, kemudian KRT Noto ningrat wafat pada tahun 1305 H atau 1888 M.
Mengingat jasa besar Beliau membangun Masjid, maka KRT Noto ningrat jasatnya di makamkan di belakang Masjid Agung Bangil.
Adapun bentuk bangunan Masjid Agung Bangil memiliki model perpaduan kulturasi jawa kuno dan kultur Arab
Kultur Jawa kuno di tandai dengan bentuk segi tiga atap genteng dan kayu segi empat sebagai soko guru, sedangkan arsitektur kultur arab seperti adanya bangunan kuba dan bentuk bangunan dari bata setengah lingkaran serta bangunan menara Masjid Agung Bangil yang tampak dari depan Alun Alun Bangil.
Keaslian bangunan awal Masjid Agung Bangil terus di abadikan sejak dulu oleh takmir Masjid ; yaitu terdiri dari 4 pilar kayu jati sebagai soko guru dan 12 pilar kayu jati sebagai penyangga.
Pilar kayu jati tersebut hanya di halusi menggunakan kapak ( pecok ), dan tidak terdapat paku maupun besi.
Adapun kayu jati yang menancap ke dalam tanah berbentuk krucut di letakkan di atas tumpukan batu besar, sebelumnya batu besar di lubangi atasnya berisi sapu Juk buat umpak atau pangkon hal itu untuk menahan gempa Bumi ujar salah seorang Insinyur, di Masjid Agung Bangil.
Menurut buku sejarah Babat Demak Bintoro, setiap Masjid yang di beri nama "Agung", niscaya Masjid tersebut memiliki sejarah berkaitan dengan Wali Songo atau sejarah peninggalan wilayah kekuasaan kesultanan Islam Demak Bintoro.
Di antara beberapa Masjid Agung bekas wilayah kekuasaan kerajaan Islam Demak Bintoro, memiliki ciri khas menggunakan tradisi tata kota Jawa kuno.yaitu "ALUN ALUN" sebagai pusat pemerintahan Kabupaten pasuruan atau titik nol.
Kemudian sebelah Barat alun alun terdapat Masjid yang di beri nama "Masjid Agung" dan terdapat kuburan Adipati serta terdapat Desa yang di beri nama Kauman ( kaum orang yang beriman).
Sebelah timur Alun alun terdapat wilayah Hukum kepatihan dan penjara, kemudian terdapat desa kepatihan sebagai menumental sejarah.
Sebelah selatan atau utara Alun alun terdapat pusat pemerintahan yang di sebut Astana Dalem dan terdapat pula nama Desa kidul Dalem.
Sedangkan sekitar Alun alun lainya terdapat pasar dan terminal kuda atau Gedokan Jaran sebagai alat transportasi zaman dulu.
Apabila ada Masjid yang di beri nama "Agung" seperti di atas, maka menurut sejarah babat demak bintoro, Masjid tersebut merupakan peninggalan wilayah kekuasaan kesultanan Islam Demak Bintoro.
Sedangkan ciri has lainya dari wilayah kekuasaan kesultanan Islam Demak Bintoro, yaitu dalam kepengurusan Masjid terdapat seorang Ulama' Ahli hukum Agama bergelar SURONOTO ( menata peribatan Masjid).
sedangkan SORONOTO membawahi marbot Masjid dan juru kunci kuburan,... Kesemuanya di angkat oleh Adipati dan mendapat bayaran dari pemerintahan kadipaten.
Adapun ciri has berikutnya adalah Bangunan Masjid Agung memiliki kultur jawa kuno, yaitu terdiri dari tiga susun beratapkan genteng dengan bentuk keseluruhan seperti piramida yang mengkrucut ke atas, hal itu menggambarkan filosofi Jawa kuno:
1. Genteng dasar melambangkan "Syariat".
2. Genteng ke dua merupakan "Thoriqot"
3. Genteng ke tiga merupakan "Hakikat/Makrifat"
Salah satu Masjid bekas kekuasaan kerajaan Islam Demak Bintoro adalah "Masjid Agung Bangil".
Terbukti di sebelah barat Masjid Agung Bangil terdapat dua makam Adipati Bangil, di antaranya bernama :
1. Kanjeng Raden Tumenggung Noto Ningrat, tercatat dalam batu nisan wafat tahun1888 M.
2. Kanjeng Raden Tumenggung Sunjoto Ningrat.
3. Istri dari KRT Sunjoto Ningrat.
Kedua Adipati di atas memiliki kaitan dengan sejarah pembangunan renovasi Masjid Agung Bangil.
Sebagaimana bukti foto kenangan ketika peresmian pembangunan Masjid Agung Bangil pada tahun 1918 M oleh Adipati Bangil bernama KRT Sunjoto Ningrat bersama stafnya dan Ulama' bersama kaum muslimin di depan halaman Masjid Agung Bangil.
Sedangkan Ulama' ahli hukum bergelar Suronoto merupakan pengurus Masjid Agung Bangil, bernama:
1. Kyai Usman Suronoto.
2. Kyai Ahmad Suronoto.
kedua Ulama' bergelar Suronoto tersebut tinggal di sekitar Kauman dan di makamkan di kuburan belakang Masjid Agung Bangil.
Adapun Kantor Suronoto tempo dulu berada di samping Masjid, kemudian berubah menjadi Kantor Urusan Agama ( KUA).
Sedangkan yang pertama kali menjabat ketua KUA adalah Ustadz Amirin dari desa Ledok Bangil.
Berikutnya menurut sejarah bahwa; sebutan nama Masjid Agung Bangil berasal dari sejarah kekuasaan kesultanan Islam Demak Bintoro, kemudian sejarah yang menyebut "Masjid Jami' Bangil" berasal dari Ulama' dan masarakat Bangil, dengan alasan Masjid tersebut besar banyak menampung jamaah untuk sholat Jum'at dan sholat Iedul fitri serta sholat Iedul Adha.
Berdasarkan manuskip Masjid Agung Bangil pada tahun 1933 M, telah terjadi pertemuan antara Adipati Bangil dengan para Ulama' selaku Tokoh dari beberapa desa sekitar Masjid, di antaranya:
1.KH Muhdhor dari gondang Bangil.
2.KH Ahmad Suronoto dari Kauman Bangil
3.KH Abu dari wetan alun Bangil.
4.KH Ahmad Pandean Bangil
5.KH Rofii kandang sapi Bangil
6.KH Bajuri kidul dalem Bangil
7.Tuan H Said Kampung Baru Bangil
Telah menerima amanat kepengurusan Masjid Agung Bangil dari Adipati Bangil kepada tokoh Ulama' tersebut di atas, mengingat kantor Kabupaten Bangil di pindah ke Pasuruan kota.
Maka sejak itu berahirnya Suronoto selaku pengurus Masjid, kemudian di serahkan kepada Ulama' tersebut di atas selaku Nadhir Masjid Agung Bangil.
Untuk memudahkan dikenal masyarakat luas, nama Masjid Agung Bangil, di sempurnakan oleh para Ulama' menjadi nama Masjid Agung Jami' Bangil, yang artinya "Masjid besar dan banyak menampung jamaah",
Hal itu sesuai dengan simbul Ahlu Sunnah Wal Jamaah ( Assawadil A' dhom minal muslimin).
Nama tetap Masjid Agung, hanya menambah Jamik di belakangnya, sehingga sempurna menjadi " MASJID AGUNG JAMIK BANGIL
Para Ulama' terdahulu membuat hiasan kaca samping Masjid dengan nama 25 Rasul dan 10 nama Malaikat serta 4 nama sahabat Nabi Muhammad Saw, bahkan dalam sholat Terawih di tentukan 20 rokaat mebghatamkan Al Qur'an 30 juz di tambah 3 sholat witir, kemudian seorang bilal selalu membaca sholawat kepada nama Nabi Muhammad saw dan 4 sahabat Nabi di sela selah sholat terawih.
Kemudian dalam Masjid Agung Jamik Bangil terdapat Bencet atau petunjuk jam Matahari dan beduk serta kentongan sebagai tanda masuk waktu dhuhur.
Tertulis bahwa Masjid Agung Jami' Bangil memiliki AD/ ART sebagai Masjid Ahlu Sunnah wal Jamaah dengan tauhid Asy'ari dan Maturidi,, fiqihnya mengikuti madzhab 4, terutama Madzhab Imam Syafii, dan Tasawufnya mengikuti Imam Al Ghozali atau Imam Junaid Al Bagdadi.
Oleh sebab itu Nadhir dan Anggota Majlis tahkim serta pengurus Masjid Agung Jamik Bangil, harus beraqidah Ahlu Sunnah Waljamaah ( NU kultural atau struktural ), sesuai dengan AD/ ART Masjid Agung Jamik Bangil
Inilah sejarah singkat Masjid Agung Bangil yang kini menjadi Masjid Agung Jamik Bangil (Wallahu A' lam).( bersambung)
Tulis Komentar